Ditulis oleh: Andini Eka Pratiwi, Raisa Parsa Nugraha, dan Tarida Gitaputri Butar-Butar
Leiden University, TU Delft, dan Erasmus University Rotterdam bersama program studi Antropologi, FISIP Universitas Indonesia menghadirkan Joint Minor Programme sebagai bentuk kolaborasi internasional yang berlangsung selama satu semester pada semester ganjil tahun akademik 2024/2025. Program ini dirancang sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan pendidikan interdisipliner lintas negara, yang memungkinkan mahasiswa untuk terlibat dengan berbagai perspektif sekaligus mengembangkan wawasan global.
Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia dengan bangga telah berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran interdisipliner lintas negara ini melalui tiga mahasiswanya, yaitu Andini Eka Pratiwi, Raisa Parsa Nugraha, dan Tarida Gitaputri Butar-Butar.
Metode Pembelajaran: Dari Diskusi Peer-to-Peer hingga Fieldwork
Melalui rangkaian pembelajaran yang bertajuk Designing an Interdisciplinary Project dan Future Indonesia Course, mahasiswa didorong untuk secara kritis merefleksikan serta merumuskan solusi atas berbagai isu strategis, seperti tata kelola, perubahan sosial, dan transformasi perkotaan.
Kerja sama antara Belanda – Indonesia ini tidak hanya memperkuat hubungan antar institusi, tetapi juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk memahami dan mempelajari keberagaman budaya, khususnya dalam konteks Indonesia beserta tantangannya. Proses pembelajaran dalam program ini berlangsung secara interaktif melalui diskusi peer-to-peer setiap minggu, kunjungan studi, serta riset kolaboratif lintas negara.
“Bagi saya, pengalaman di Joint Minor Programme ini bukan hanya tentang pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi personal. Saya menyadari bahwa proses dekolonialisasi bukan hanya dialami oleh mahasiswa Belanda, tetapi juga menjadi perjalanan untuk memahami kembali sejarah dan identitas diri saya sebagai mahasiswi Indonesia. Program ini juga membuka perspektif tentang bagaimana tantangan masa depan Indonesia perlu direspons secara global, terutama dalam kaitannya dengan kesejahteraan sosial, mulai dari isu ketimpangan, gender, hingga akses terhadap lingkungan yang berkelanjutan. Melalui diskusi mingguan, studi lapangan, hingga riset kolaboratif, saya juga berkesempatan mengkaji isu keamanan perempuan di Manggarai dalam perspektif kota berkelanjutan dan pembiayaan pembangunan. Pengalaman ini melatih saya dalam menavigasi perbedaan budaya serta membangun relasi lintas negara yang bermakna,” ujar Tarida Gitaputri (Gita), salah satu peserta program.
Pada tahun kedua penyelenggaraannya, jumlah peserta program ini meningkat dari 27 menjadi 40 mahasiswa. Antusiasme tidak hanya datang dari mahasiswa FISIP UI, tetapi juga dari fakultas lain. Dari total 40 peserta yang lolos seleksi, terdiri atas 14 mahasiswa FISIP UI, 1 mahasiswa FMIPA UI, 6 mahasiswa TU Delft, 5 mahasiswa Erasmus University Rotterdam, serta 14 mahasiswa dari Leiden University.
Eksplorasi Lapangan: Dari Sejarah Depok hingga Pesisir Tidung
Selain pembelajaran di dalam kelas, program ini turut mengintegrasikan metode kerja lapangan (fieldwork) yang beragam. Para peserta berkesempatan mendalami sejarah Depok era kolonial melalui tur berjalan kaki ke berbagai bangunan bersejarah di Kota Depok. Peserta juga berkesempatan mengunjungi Kedutaan Besar Belanda untuk mempererat hubungan bilateral. Kunjungan tersebut diisi dengan sesi diskusi dan kelas bersama pihak kedutaan belanda untuk membedah strategi pemerintah Belanda dalam menangani permasalahan publik yang serupa dengan kondisi di Indonesia. Sebagai bentuk persiapan riset kolaboratif Mahasiswa FISIP UI dan mahasiswa Leiden-Delft-Erasmus (LDE) University berkesempatan untuk menginap selama satu hari di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu sebagai sarana praktik wawancara dan observasi sebelum nantinya benar-benar turun ke lapangan.
Membedah Isu Lingkungan dan Kebijakan Publik Secara Kritis
Rangkaian program diakhiri dengan menyusun riset kelompok yang berfokus pada perumusan rekomendasi kebijakan (policy brief). Setiap kelompok membedah urgensi permasalahan yang beragam, mulai dari ketahanan pangan (food sustainability), pelestarian warisan budaya (heritage), manajemen limbah (waste), transisi energi (energy), pengembangan kota hijau (green cities), dan aspirasi generasi muda (youth aspiration).
“Selain bersifat edukatif, program ini menyajikan pengalaman transformatif yang memperluas perspektif saya dalam meninjau berbagai isu strategis, mulai dari kebijakan politik, sosial, dan lingkungan. Pendekatan antropologis yang diusung dalam program ini membuka mata saya mengenai bagaimana konstruksi kolonialisme secara sistemik membentuk pola pikir, kebiasaan, budaya, tata ruang kota, hingga norma sosiokultural yang selama ini saya anggap sebagai fenomena alami. Pemahaman ini menegaskan bahwa berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat saat ini merupakan manifestasi dari warisan sejarah yang kompleks dan masih terus berlanjut hingga saat ini. Maka dari itu, dalam menentukan masa depan indonesia, kita tidak bisa lepas dari upaya memahami kembali sejarah masa lalu kita sendiri.“ ujar Raisa Parsa Nugraha mengenai pengalamannya dalam program Joint Minor 2025.
Apresiasi untuk Mahasiswa Kesos di Panggung Internasional
Tidak hanya berpartisipasi dengan aktif dalam pembelajaran di kelas dan setiap proyeknya, mahasiswa-mahasiswa Kesos UI yang berpartisipasi dalam program ini juga berhasil meraih beberapa penghargaan, yaitu Best Participant yang diraih oleh Andini Eka Pratiwi dan Best Team Presentation oleh Tarida Gitaputri Butar Butar dengan tema penelitian mengenai kota hijau dan keuangan berkelanjutan (green cities and sustainable finance).
“Pembelajaran dan pengalaman melaluiJoint Minor Programme membuat saya memiliki perspektif yang lebih luas dan kritis dalam menyikapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dan kaitannya dengan kolonialisme. Diskusi-diskusi yang berlangsung dengan mahasiswa-mahasiswa Belanda dan sesama mahasiswa Indonesia telah memberikan saya banyak perspektif dalam memandang suatu hal, terutama tentang isu kebijakan politik, lingkungan, dan ketimpangan dalam konteks masing-masing negara. Tidak hanya itu, di luar kelas dan proyek penelitian, kami juga berkesempatan untuk saling mengenal satu sama lain serta membangun hubungan pertemanan yang lebih bermakna,” ujar Andini Eka Pratiwi ketika merefleksikan pengalamannya dalamJoint Minor Programme 2025.

